Slamet A | My hero in my Life

Hay sob. Sudah lama tidak nulis-nulis hal yang tidak penting lagi. Ya tulisan ini saya tulis karena memang saya tidak kuat lagi menahan semua kesedihan. Rasanya ingin menceritakan kepada semuanya, tapi lidah tidak pernah bisa di ajak kompromi. Saya putuskan untuk menulis, semoga saja bisa sedikit mengurangi beban kesedihan ini.

Sobat pasti bertanya, siapa itu Slamet A? Ko dijadikan judul postingan? Hehehehe.

Dia itu bapak aku. Iya bapak yang sudah membesarkan aku. Tanggal 03-04-16 kemarin bapak di panggil sama Alloh diumurnya yang 48 tahun. Bapak di suruh istirahat sama Alloh. Hehehe.

Sedih rasanya kehilangan sosok ayah. Nyesel juga belum bisa ngasih kebahagiaan buat bapak. Kehilangan sosok seorang ayah membuat aku kehilangan gairah lagi buat hidup. Rasanya tiap hari seperti zombie yang tak bisa berfikir apa-apa yang tak jelas juga nglakuin apa. Bapak bagiku adalah pahlawan, sosok orang yang ganteng dan berwibawa yang sayang dan cinta kepadaku tidak lewat ucapan, tapi lewat tindakan. Saya heran kenapa bapak bisa dijemput secepat ini. Tanggal dan bulan kematian bapak sama persis dengan tanggal dan bulan kematian kakaknya bapak yang pertama. Ya tanggal 3 bulan April.

Memang sudah 7 tahun ini bapak sakit stroke. Diumur bapak yang ke 41 sudah terkena stroke. Beliau hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tidak bisa bekerja atau hanya sekedar keluar rumah seperti halnya bapak-bapak pada umumnya. Saat terkena stroke bukannya aku bikin bapak bahagia justru aku bikin bapak sedih terus. Bahkan sampai bapak di jemput Alloh, aku belum sempat bikin bapak bahagia. Jangankan bikin bahagia, bikin bapak senyum saya tidak bisa. Saat terkena stroke saya tidak pernah ngurusin bapak, justru ibu yang selalu ngurusin bapak selama 7 tahun ini. Rasanya sangat menyesal, apa yang aku lakuin selama 7 tahun ini. Bukannya ngurus bapak malahan main-main terus tanpa berhenti. Jika waktu bisa berputar, rasanya ingin sekali bapak ada di sini. Rasanya ingin sekali ngurusin bapak saat stroke.

Jujur selama bapak stroke aku sangat sedih. Rasanya kehidupanku 100% berubah. Untuk melihat wajah bapaks saya aku tak sanggup. Kasihan bapak, beliau orang baik, tapi kenapa dikasih cobaan yang sangat berat. Beliau masih muda, masih banyak cita-cita yang ingin dicapainya. Berbincang dengan bapak yang bernada pelo, rasanya sangat menusuk di hati. Kenapa tidak aku saja yang sakit seperti itu? kenapa harus bapak?

7 tahun hanya berbaring di tempat tidur bukan suatu hal yang sebentar. Rasanya sangat ingin berjalan-jalan bersama bapak, tapi apa daya, ekonomi keluarga tidak memenuhi. Tiap malam aku selalu berimajinasi. Andai saja aku punya mobil, pasti sudah aku ajak bapak jalan-jalan setiap sore. Menikmati keindahan senja di kota, menikmati jajanan di pinggir jalan. Sebenarnya sebelum meninggal bapak sudah dipensiun dini. Aku tahu uang pensiunan tidak sedikit. Ibu tanya, ini uang pensiunan buat apa? kita berdiskusi di samping tempat tidur bapak. Aku yakin bapak juga mendengarkannya. Ibu bilang kalau uang pensiuanan itu bakalan digunakan untuk membangun rumah. Memmang sampai saat ini keluargaku belum memiliki rumah di solo.

Ibu, bapak dan adik tinggal di rumah nenek. Sedangkan aku kadang di rumah nenek dan kadang di rumah adiknya bapak. Bahkan sering juga tidak pulang rumah. Ibu menginginkan memiliki rumah di solo, katanya engga enak numpang terus. Disitu aku mengungkapkan keinginanku. Ya memiliki mobil yang tidak mewah-mewah banget. Aku bilang sisa dari buat rumah digunakan buat beli mobil yang murah-murahan asal bisa jalan. Bukan untuk gengsi-gengsian atau pamer harta, tapi hanya untuk mengajak bapak jalan-jalan.

Rencana itu sudah disusun secara rapi. Bahkan saat itu sudah disuruh mengirim syarat terakhir untuk mengambil uang pensiunan. Sudah saya kirim lewat pos. Dan sudah di terima sama teman bapak yang ada di tegal. Tapi semua itu kedahuluan kematian bapak. Bapak belum menikmati uang pensiunan yang sudah beliau usahakan selama ini. Bahkan raga bapak yang ada di dalam keranda belum disemayamkan di rumah kita sendiri. Masih disemayamkan di rumah adiknya bapak. Sampai bapak meninggal kita sekeluarga belum memiliki rumah sendiri. Sedih banget rasanya. Selain itu, sampai bapak dipanggil Alloh, aku belum wisuda. hehehe. Padahal sudah telat setahun dibandingkan teman-teman seangkatan.

Secara garis besar aku sangat bangga dengan bapakku. Beliau kuat menahan rasa sakit selama 7 tahun. Beliau kuat memendam kesedihan yang selalu aku lakukan. Beliau selalu sabar dan tawakal seperti halnya yang sering beliau lakukan sebelum jatuh sakit. Aku kangen bapak.

Semua rencana itu sekarang hanya menjadi sebuah rencana. Memang sih dalam waktu dekat ini kita sekeluarga bakalan dapat uang pensiunan bapak. Tapi buat apa? Apa iya uang itu bakalan aku gunakan? Memang benar uang itu bisa buat mendirikan rumah dan beli mobil yang murah-murahan. Tapi apa iya bisa bikin bahagia?

Nyeselllll. Belum bisa bikin bapak bahagia sampai saat ini. Sekarang ini sudah sekitar 15 hari sejak kematian bapak. Rasanya pengen sekali fokus pada studi biar cepat lulus. Tapi yang terjadi justru setiap hari hanya bengong. Engga nyangka bapak pergi secepat ini. Sekarang ini yang tersisa cuma kenangan-kenangan. Mungkin semua orang sudah terbiasa, tapi aku justru ngedrop seperti ini.

Kata-kata terakhir yang bapak ucapkan hanyalah namaku. Jarr,,,,,,,,, Fajarrr,,,,,,,, Jarr.................. fajarr....... itu diulang-ulang terus. Saat itu waktu masih pagi sekitar jam 3.Bodohnya aku tidak terbangun dari tidur saat dipanggil bapak. Sampai-sampai ibuk yang membangunkan aku. Dengan wajah ngantuk aku pergi ketempat tidur bapak. Aku memegang tangan bapak. Ibu ngomong sama bapak kalau aku sudah disampingnya. Tak pegang tangan bapak, bapak terus memanggil namaku. Aku mendekatkan kepala ke bapak. Tapi justru bapak mengeluarkan air mata dan berbicara tidak jelas. Seperti ingin berbicara tapi tidak bisa. Memang sebelum bapak ngedrop bicaranya pelo. Saat itu tubuh bapak ngedrop, ditambah bapak nangis, ditambah memang pelo. Jadi bisa dibayangin seperti apa kata yang bapak ucapin. Kata yang jelas hanyalah namaku.

Saat itu aku masih mengantuk, memang sebentar tidurnya. Sebelumnya aku bangun sampai jam 2 untuk njagain bapak. Karena tidak jelas, aku putuskan untuk ke kamar melanjutkan tidur. Bodoh? memang bodoh. Rasanya sangat menyesal. Jika keingat kejaian itu aku selalu menyalahkan diri sendiri. Kenapa aku sebodoh ini. Kenapa aku sejahat ini.

Tidak nyangka kalau itu kata-kata terakhir yang bisa bapak ucapkan. Setelah itu bapak jatuh koma selama satu minggu di RSUD Surakarta. Aku menyesal, aku memutuskan akan berada di rumah sakit terus sembari menunggu kabar dari ruang ICU. Setiap hari aku di rumah sakit, pikirannya hanya bapak. Setiap pintu ICU terbuka saya selalu berharap ada kabar bagus tentang bapak. Karena ini bapak yang kedua kalinya tidur di ICU. Saat di ICU untuk pertama kalinya perawat selalu memberikan kabar yang baik. Aku pun berharap hal itu terulang lagi. Tapi apa? setiap harinya mendapatkan kabar yang sangat buruk. Tetapi saat hari ketiga dan keempat, aku masuk dan melihat bapak bisa membuka mata. Rasanya sangat senang. Tetapi saat itu bapak selalu mengeluarkan air mata. Saya yakin saat itu bapak merasa sangat sakit. Kenapa tidak aku saja yang merasakannya? kenapa harus bapak?

Hari kelima bapak sudah tidak bisa apa-apa. Hanya berbaring dengan nafas yang tidak beraturan. Kata saudara dan adik adiknya bapak aku disuruh pasrah. Sabtu malam aku dipanggil perawat. Aku masuk, dan dia bilang kalau bapak tinggal menunggu waktu. Gilaaaa, rasanyaaaa. Saat itu spontan aku keluar, dan aku disuruh ibuk buat ngabarin ke semua saudara. Ya tengah malam jam 00.13 bapak sudah di jemput. Hehehe. Sedih banget rasanya. Pulang ke rumah om aku masih kuat membawa motor sendiri. Bersama rombongan keluarga aku memilih jalan paling belakang. Di jalan rasanya tidak karuan. Air mata netes terus. Sampai rumah disambut saudara. Nangis lagi. Nangis terus. Nangis saja. Eh nangis. Lah kok nangis. Nangis. Nangis. Nangis.

Sekarang ini aku cuma pasrah, ngga pengen berharap, ngga pengen ngrencanain apa-apa lagi. Pasrah ikhlas pasrah ikhlas. Ywis jalani opo eneke, wis rak enek opo-opo soale. Tidur di tempat tidur bapak, hanya itu yang bisa aku lakukan. Mbayangin bagaimana aku saat masih ada bapak, dibeliin eskrim, mainan, diajarin matematika seminggu full. Banyak lah kenangan-kenangan yang a a u u.

Bapak paling sabar
Saat bikin foto 3x4 buat ambil dana Taspen

Slamet A bapak aku kangen
Entah ini kapan. Pokoknya pas pertama kali aku dibeliin hape ada kameranya.


Aku nulis ini bukannya mau pamer kesedihan, bukannya mengharapkan kasihani dari kalian. Ini cuma usaha aku buat sedikit menghilangkan kesedihan. Bapak taseh nopo teng mriko? bapak saget semerep fajar nopo boten? fajar kangen kalihan bapak.

0 Response to "Slamet A | My hero in my Life"

Poskan Komentar

jangan takut berkomentar, karena komentar anda sangat kami butuhkan untuk membangun blog ini agar bisa lebih baik lagi.